Ruth Dian Kurniasari

Ruth Dian Kurniasari ~ Separuh aku, adalah Draupadi ~

Masih Tentangmu

Kisah tentangmu, halaman yang selalu kubuka
Pembatas origami bentuk hati, merah jambu
Seperti penanda-penunjuk, bahwa segala tentangmu selalu manis untuk dikecap-disesap

Kubaui lagi lembar kertasnya yang kian retas
Aroma anyir menyibak-menyeruak
Sekejap ingatan melesat: pernah aku begitu berdarah merinduimu
Ah, kala itu…
Saat cinta masih tentang pelangi dan tarian kupu-kupu
Picisan!

Jemari tak henti menyentuh tiap kata yang tecetak di sana- di halaman yang sama
Ada rasa getir mencintaimu
Seperti sayatan-sayatan luka yang dalam
Seperti teriakan kekecewaan yang tertahan
Seperti keangkuhan yang meledak-ledak
Namun tak kutemui penyesalan

Bukan perkara menghapus cerita atau memulai yang baru
Sebab itu aku memilih melanjutkan
Ini masih tentangmu, masih di halaman yang sama

Jengah

Seperti kehampaan yang sengaja tak dibiarkan penuh

Seperti kekosongan yang menakdirkan diri setia pada yang tak terisi

Seperti hidup yang menunggu mati

Terima saja kenyataan: kita tak pernah bertemu di satu titik nadir

Mengucap sumpah senyawa-sejiwa, sembari tak henti bersitegang tentang apa saja

Abaikan lelah mencinta atas dasar ingin tetap bersama

Kita lupa, bahwa hati pun punya masa

Dan kata ‘selamanya’, tak pernah benar-benar selamanya

Selebihnya,

Aku

Kamu

Hanyalah kesia-siaan yang terbiasa saling melukai

Hingga rasa ini memilih mati

"Tuhan itu baik, menjauhkanmu dari orang yang tak layak kau cintai."

Ruth Dian Kurniasari

BIDUAN

Biduan itu melantunkan sebait kisah cinta
Ia lagukan partitur pemanggil kekasihnya
Ritmis setempo gerimis, ketukan terbata-bata
Lahir dari bibir yang mendamba sepotong bibir lainnya

Pita suaranya memar dihajar cemburu
Lidahnya kelu menginginkan cumbu
Tenggoroknya tercekat, teriaknya pudar dalam pekat
Ia, nyaris sekarat

Nyanyian dengan nada-nada sumbang
Musabab pelukan yang makin renggang
Tentang kaki-kaki rindu yang kian pincang
Serta harapan yang mulai hilang
Separuh hatinya…

…tak pernah lagi pulang

“I will remember the kisses, our lips raw with love and how you gave me everything you had and how I offered you what was left of me and I will remember your small room the feel of you, the light in the window, your records, your books, our morning coffee, our noons our nights, our bodies spilled together sleeping, the tiny flowing currents, immediate and forever, your leg my leg, your arm my arm, your smile and the warmth of you who made me laugh again.” ― Charles Bukowski

“I will remember the kisses, our lips raw with love and how you gave me everything you had and how I offered you what was left of me and I will remember your small room the feel of you, the light in the window, your records, your books, our morning coffee, our noons our nights, our bodies spilled together sleeping, the tiny flowing currents, immediate and forever, your leg my leg, your arm my arm, your smile and the warmth of you who made me laugh again.” ― Charles Bukowski

"Sini, duduk di dekatku. Longgarkan kernyit di dahi, lupakan bicara dengan nada tinggi, lalu saling memaafkan — sekali lagi."

Ruth Dian Kurniasari